Tidak mengenal ‘pergaulan’ sebelum menikah.. itu yang Islam ajarakan untuk ummatnya..
Dungunya aku, yang tau namun seolah-olah tidak tau
Jauh dalam benak ku … ku ingin sekali menikah dengan seorang laki-laki yang bisa menjadi penolong ku dalam agama dan mengangkat derajat ku. Do’a itu ku panjatkan, bahkan sebelum ku terlena karena asmara dengannya. Aku ingin sekali menikah dengan laki-laki yang menjadikan ku istimewa karena ia belum pernah menyentuh ku.. Yang membutuhkan do’a ku dalam hidupnya. Yang membutuhkan senyumku untuk melawan kesedihannya. Yang membutuhkan dukunganku untuk membuatnya tegak berdiri. Yang membutuhkan aku untuk membuatnya lebih sempurna.
Begitupun ia akan menjadi sangat istimewa, karena ia imam dunia akhirat ku yang seluruh kebiasaan dan sifatnya kan ku terima setelah menikah. Yang selalu menasihati ku, jika aku berbuat salah. Yang selalu menemaniku dalam mengkaji dan mendalami agama. Yang mengasihi ku karena kecintaannya pada Allah. Yang menjadikan aku wanita sempurna dihadapannya.
Indah sekali membayangkan hal itu….
Jika kembali mengenang awal pertemuan kita… tak ada yang istemewa untuk ku,, namun berbeda untuk dirinya.
Roda berbalik terlalu cepat,
aku sangat terbuai dengan wawasannya yang luas. Aku tergoyah karena ketaatannya pada Allah dan baktinya terhadap ummi-nya.
Sungguh sulit didefinisikan. Dia begitu melekat dalam bayangku…. Ujarannya mencerminkan kecerdasannya. Senyumnya adalah simbol keramahan dan ketulusan darinya. Nasihatnya adalah wujud dari iman yang ia miliki. Ketidaksopanannya mencirikan ke jantanannya.
Ia sungguh memikat.
Saat itu ku benar-benar tidak bisa berkutik menghadapi dirinya yang bisa menjawab semua tanyaku tentang agama. Seakan menemukan baju yang pas dengan ku…. Aku yang sedang giat-giatnya mendalami agama dan ia menjadi tempat ku bertanya banyak hal.
Aku terpikat. Aku terperangkap oleh rayuannya.
Aku lupa kalau aku ingin merasakan hal itu setelah menikah.
Ku tidak sengaja melupakannya hingga kini menuju angka lima dari hubungan kita…. Tapi aku selalu gagal membangun fondasi yang kokoh. Bayang-bayang ketidak mampuan ku tanpa dirinya, terlebih hanya dia tempat ku berdiskusi setelah kepergian mama… Ia menjadi sangat penting dalam hidup ku.
Betapa hubungan ini semu untuk kita berdua. Dalam senang, ada juga duri yang menusuk di dalamnya.
Hati ini ingin menangis meratapi nasib. Sungguh, perasaan ini mengganggu siang dan malam ku.
Laki-laki yang ku kagumi hingga sedemikian rupa seharusnya adalah suami ku nantinya. Hanya Suamiku seorang. Betapa aku merasa bersalah terhadap teman hidup ku nanti, jika aku pernah merasakan manisnya dirayu sebelum bersamanya :’(
Sejujurnya aku tidak pernah luwes untuk bilang pacaran atau pacar…. Hingga kini aku bahkan malu mengucapkannya. Bagiku tidak ada yang istimewa dari kata itu. Terlahirnya istilah itu hanya menjadikan halal yang belum saatnya. Hal itulah yang membuatku selalu merasa rendah jika dibilang berpacara dengan si A atau Si B. Tidak ada yang bisa ku banggakan dengan memiliki istilah itu.. karena tidak menimbulkan hak dan kewajiban yang haq.
Pada kenyataannya,, aku menjadi pemain dari sandiwara ini
Bodohnya aku :’(
Persetan dengan cinta…. cinta yang semu yang hanya membuatku gelisah tak menentu. Membuatku merasa bersalah yang tak berujung.
Kesenangan itu sesaat dan segera pergi… terlebih yang ku cinta juga memiliki persinggahannya…
Betapa perih saat diri sedang dilanda badai rindu yang hebat, namun yang tertuju tengah dalam peraduannya…
Tak dapatkah ku berpikir lebih jernih….
Andai orang-orang tau…. Dia memang baik. Ke-apikan dirinya mengalahkan esensi negatif dalam dirinya.
Andai orang lain pun bisa memahami dirinya, sama seperti aku yang mencoba mengerti dirinya, ku yakin mereka akan satu suara dengan ku…. Tapi suara yang sama tidak selalu diiringi oleh tindakan yang sama… begitulah keinginan orang-orang disekelilingku.
Aku takut, sangat takut….
Jika ku mati… ku ingin itu terjadi setelah ku menikah…
Karenanya ku ingin akhiri ini, agar tak lagi menyakiti batin sendiri…
Walau banyak bisikan berkata bahwa ku tak mampu lewati ini…
Pilihan lelah karena menjaga, ku rasa itu lebih baik untuk semua.
Dia akan tetap menjadi yang terindah … dan jika memang dialah teman dunia dan akhiratku… ku kan lebih bahagia jika kita dipertemukan setelah kita sama-sama saling istiqomah di jalan yang benar.






