Outpouring of The Heart

Tidak mengenal ‘pergaulan’ sebelum menikah.. itu yang Islam ajarakan untuk ummatnya..

Dungunya aku, yang tau namun seolah-olah tidak tau

Jauh dalam benak ku … ku ingin sekali menikah dengan seorang laki-laki yang bisa menjadi penolong ku dalam agama dan mengangkat derajat ku. Do’a itu ku panjatkan, bahkan sebelum ku terlena karena asmara dengannya. Aku ingin sekali menikah dengan laki-laki yang menjadikan ku istimewa karena ia belum pernah menyentuh ku.. Yang membutuhkan do’a ku dalam hidupnya. Yang membutuhkan senyumku untuk melawan kesedihannya. Yang membutuhkan dukunganku untuk membuatnya tegak berdiri. Yang membutuhkan aku untuk membuatnya lebih sempurna.

Begitupun ia akan menjadi sangat istimewa, karena ia imam dunia akhirat ku yang seluruh kebiasaan dan sifatnya kan ku terima setelah menikah. Yang selalu menasihati ku, jika aku berbuat salah. Yang selalu menemaniku dalam mengkaji dan mendalami agama. Yang mengasihi ku karena kecintaannya pada Allah. Yang menjadikan aku wanita sempurna dihadapannya.

Indah sekali membayangkan hal itu….

Jika kembali mengenang awal pertemuan kita… tak ada yang istemewa untuk ku,, namun berbeda untuk dirinya.

Roda berbalik terlalu cepat,

aku sangat terbuai dengan wawasannya yang luas. Aku tergoyah karena ketaatannya pada Allah dan baktinya terhadap ummi-nya.

Sungguh sulit didefinisikan. Dia begitu melekat dalam bayangku…. Ujarannya mencerminkan kecerdasannya. Senyumnya adalah simbol keramahan dan ketulusan darinya. Nasihatnya adalah wujud dari iman yang ia miliki. Ketidaksopanannya mencirikan ke jantanannya.

Ia sungguh memikat.

Saat itu ku benar-benar tidak bisa berkutik menghadapi dirinya yang bisa menjawab semua tanyaku tentang agama. Seakan menemukan baju yang pas dengan ku…. Aku yang sedang giat-giatnya mendalami agama dan ia menjadi tempat ku bertanya banyak hal.

Aku terpikat. Aku terperangkap oleh rayuannya.

Aku lupa kalau aku ingin merasakan hal itu setelah menikah.

Ku tidak sengaja melupakannya hingga kini menuju angka lima dari hubungan kita…. Tapi aku selalu gagal membangun fondasi yang kokoh. Bayang-bayang ketidak mampuan ku tanpa dirinya, terlebih hanya dia tempat ku berdiskusi setelah kepergian mama… Ia menjadi sangat penting dalam hidup ku.

Betapa hubungan ini semu untuk kita berdua. Dalam senang, ada juga duri yang menusuk di dalamnya.

Hati ini ingin menangis meratapi nasib. Sungguh, perasaan ini mengganggu siang dan malam ku.

Laki-laki yang ku kagumi hingga sedemikian rupa seharusnya adalah suami ku nantinya. Hanya Suamiku seorang. Betapa aku merasa bersalah terhadap teman hidup ku nanti, jika aku pernah merasakan manisnya dirayu sebelum bersamanya :’(

Sejujurnya aku tidak pernah luwes untuk bilang pacaran atau pacar…. Hingga kini aku bahkan malu mengucapkannya. Bagiku tidak ada yang istimewa dari kata itu. Terlahirnya istilah itu hanya menjadikan halal yang belum saatnya. Hal itulah yang membuatku selalu merasa rendah jika dibilang berpacara dengan si A atau Si B. Tidak ada yang bisa ku banggakan dengan memiliki istilah itu.. karena tidak menimbulkan hak dan kewajiban yang haq.

Pada kenyataannya,, aku menjadi pemain dari sandiwara ini

Bodohnya aku :’(

Persetan dengan cinta…. cinta yang semu yang hanya membuatku gelisah tak menentu. Membuatku merasa bersalah yang tak berujung.

Kesenangan itu sesaat dan segera pergi… terlebih yang ku cinta juga memiliki persinggahannya…

Betapa perih saat diri sedang dilanda badai rindu yang hebat, namun yang tertuju tengah dalam peraduannya…

Tak dapatkah ku berpikir lebih jernih….

Andai orang-orang tau…. Dia memang baik. Ke-apikan dirinya mengalahkan esensi negatif dalam dirinya.

Andai orang lain pun bisa memahami dirinya, sama seperti aku yang mencoba mengerti dirinya, ku yakin mereka akan satu suara dengan ku…. Tapi suara yang sama tidak selalu diiringi oleh tindakan yang sama… begitulah keinginan orang-orang disekelilingku.

Aku takut, sangat takut….

http://dambacinta.blogspot.com

Jika ku mati… ku ingin itu terjadi setelah ku menikah…

Karenanya ku ingin akhiri ini, agar tak lagi menyakiti batin sendiri…

Walau banyak bisikan berkata bahwa ku tak mampu lewati ini…

Pilihan lelah karena menjaga, ku rasa itu lebih baik untuk semua.

Dia akan tetap menjadi yang terindah … dan jika memang dialah teman dunia dan akhiratku… ku kan lebih bahagia jika kita dipertemukan setelah kita sama-sama saling istiqomah di jalan yang benar.

 

 

The first memorable encounter :)

www.infoniac.com

I don’t know about this feeling, i just wanna smile every time when i remember it. I have to say, the first time i met him was so nice. His smile…. , he was very humble, smart, handsome, polite, and young.

My friend introduced me to him. He smiled and because of that i always remember him. His smile made me acceptance with that first time moment. Actually, i am not a person who can talk more at the first time because, i have to have good feeling, and comfort enough to do that, but at that time was different. I told with him even though it was a small talk but i was happy and it was unforgettable moment.

I don’t know him. I just know what i’ve heard from my friend. It just a little info about him. Is it love like what people say? if yes, it is very unusual for me because, i usually impressed with someone firstly because of he is a pious person and have a good passion in his life. While this time, i don’t know the quality of his religion.. upppss i am sorry, i said that because, having a relationship is not just fun but, it is the one stage level before we are getting married. So, no excuse for the quality of his religion, not just he has similar faith with me but more than that !!!

I don’t know what happen to me. Since that memorable moment i always thinking of him.

Ohhh

Allah please give me the right person who could help me in my religion and elevating of my life, who can teach me everything and lead me to become a good person.

Mengapa Do’a tidak terkabul?

Siapa yang tidak pernah berdo’a sepanjang hidupnya?

Saya tidak yakin ada yang mengatakan ‘pernah’ dari pertanyaan di atas. Kita semua pastilah pernah memanjatkan do’a, meminta sesuatu pada sang Khalik. Namun, dari sekian do’a yang dipanjatkan, Apakah semua do’a atau permintaan yang kita sebutkan dikabulkan oleh Allah?

Dalam QS. Ghoofir:60 tertulis bahwa “Berdo’alah kalian kepadaKu, niscaya akan Aku kabulkan do’a kalian”. Melihat dari ayat yang diturunkan sudah barang tentu do’a kita akan diijabah oleh Allah. Itu merupakan janjinya…

www.lordubay.wordpress.com

Namun kadang do’a yang kita panjatkan belum dikabulkan. Mungkinkah Allah sedang menundanya hingga saat yang tepat atau karena lain hal…

Dalam hal berdo’a sebenarnya ada beberapa sebab sehingga do’a tidak dikabulkan. Kali ini saya akan menyebutkan sepuluh alasan do’a tidak terkabul merujuk pada buku yang berjudul “Panduan praktis do’a dan dzikir sehari-hari: Menurut Al-Quran dan Sunnah. karangan Abduh Zulfidar Akaha, dengan penerbit Pustaka Al Kautsar.

  1. Mengenal Allah, tetapi kalian tidak menunaikan haknya.
  2. Mengaku mencintai Rasul, namun meninggalkan sunnahnya.
  3. Membaca Al-Quran, tetapi tidak mengamalkan isinya.
  4. Banyak diberikan nikmat dan karunia, tetapi tidak mensyukurinya.
  5. Mengatakan setan adalah musuh, namun mengikuti langkahnya.
  6. Mengaku surga itu benar, namun tidak melakukan amalan yang mengantarkan diri kita ke sana.
  7. Mengaku bahwa neraka adalah benar, namun tidak lari dari panas siksanya.
  8. Mengaku bahwa kematian itu benar, tetapi tidak mempersiapkan diri ke sana.
  9. Kita sibuk mengurusi kekurangan orang lain, tetapi lupa pada kekurangan diri sendiri.
  10. Mengubur jenazah, namun tidak mengambil pelajaran dari peristiwa kematian.

Saat saya membacanya pertama kali, kalimat-kalimat tersebut mampu membuat diri bermuhasabah. Setiap poin yang disebutkan benar-benar merefleksikan apa yang kita kerjakan dibumi ini. Mungkin saya atau teman-teman secara subconsciously melakukan hal tersebut seperti, lalai mengerjakan hal-hal yang wajib, tidak konsisten menjalankan sunnah rasul, senang mengurusi hal-hal yang duniawi, namun lupa pada akhirat, dan lain sebagainya.

Setelah membaca satu persatu poin-poin tersebut, secara pribadi saya akan lebih mengintrospeksi diri sebelum bertanya “Mengapa do’a ku belum dijawab oleh Sang pencipta?”

Selain itu pengarang juga menyebutkan satu poin tambahan yang tak kalah penting mengapa do’a tidak terkabul yaitu: Berdo’a tanpa ikhtiar. Kadang kita menjadi ahli ibadah disaat sulit, tetapi lupa bahwa Allah menyaksikan usaha dan perjuangan yang kita lakukan. Allah maha mengetahui apa yang kita kerjakan dan Ia Maha adil atas setiap perbuatan yang kita lakukan.

 

Semoga, tulisan ini bermanfaat bagi pembaca untuk dunia dan akhirat.

Amiin

Designing listening or speaking task?????

As a learners we usually face reading, writing, listening, and speaking part in our text book. Those skills have to cover in each topic.

Do you think as a teacher or teacher candidate even as a learner we can only learn one skill in one session. Means if it is time for reading part so that, we just read without touch the other skills?

Actually those skills are integrated. It means we cannot deny or neglect other skills while we want to focus in one skill, let say listening.

Skills from the easiest until the hardest one are; listening, speaking, reading and writing. Let’s have a look a baby. The baby is only listen what his/her parents talking about, after that she/he imitate parent’s sounds. As time goes by, baby learn how to read and writing in his/her school.

In teachers point of view, how you designing listening task?

We usually combine it with speaking or writing skills in listening task. The question is; if we combine it with speaking and your students will speak up …. is that speaking task or listening task??????

www.ionpsych.com

Actually listening and speaking are brother and sister. When somebody speaks and the others are listen. Listening is not only listen a music, watching video, listen to the news, or something like that. Listen to  the teacher explanation is a part of listening. So, how you define which one is more dominant? I guess if no more speaks means no more listen. Do you agree with me :) )))))

Well,, doesn’t matter, speaking or listening the idea is we focus in what skills in the main activity that we design for our students.

Role Play

www.satulagi.com

Role play in teaching learning language is very usual and we already familiar with that term. The idea is not new or old of this term but how creative teacher give student’s chance and so how the amazing of creativeness of the young generation.

I did a role play for many times. Actually, I am not a person who like perform, i prefer to write a long journal or academic essay or something like that, but i cannot say that i am not enjoying the performance.

You know, my lecturer decided us to make a role play in a group of 3 or 4 for  midterm test. The topic is royal wedding of William and kate. It seems easy but not only that, she wanted us to relate what happened in the wedding to the history that we already learn about the history of England in British studies course.

This is very contextual learning. Doesn’t matter the royal wedding is accidental moment or not but our lecturer can take it as part of learning. For me who didn’t follow the news of Britain, it is too hard to know more about the history of England because it was very complicated. Honestly, i never known about England if i never took this course. The history of England is very long journey, we spent many times for discussed it and now we perform about 30 minutes to talk about the wedding also the history.

I do agree with the statement “Good person come from a good mother and a good teacher”. We become nothing if my lecturer didn’t give us the chance and opportunity to explore our talent. This is a part for teacher to concern about student’s talent. Probably your students not interest enough or not good in paper pencil test, or other usual test, this kind of test it might be more interested for the students. As a teachers, if we want our students are creative, innovative, smart and always makes us proud of them, let’s reflect ourselves. Do am i as a teacher encourage them to reach our goals or not. Are we give them the way to reach it?

Thanks god i ever experienced learning is fun and unforgettable moment in my life. If i am not study here right now, maybe i feel the same with my last experience in elementary and high school. As i known before, teacher just gave the instruction to do the test without any guideline how to pass the test. It was very rigid examination and if the students got confused, the teacher seems happy because in their mind they succeeded in teaching. It was very very misunderstanding of successful teaching learning and effective assessment.

Based on this moment, i do believe that nothing is impossible in learning. Teaching is part of an art :)

Let’s make learning is fun and fun :)

Mau dijodohin ga??????????

Kumpulan huruf yang membentuk kosa kata Jodoh dan diberi imbuhan di-kan sehingga terangkai kata ‘dijodohkan’ dan banyak orang membunyikannya tanpa EYD secara tepat, sehingga menjadi kata ‘dijodohin‘, sama sekali tidak membuat saya takut ataupun ngeri.

Saat SD siapa yang tidak pernah dengar cerita Siti Nurbaya yang melegenda, terlebih aku sendiri keturunan Padang. Ya sudah barang tentu ku tau cerita Siti Nurbaya itu. Cerita yang kurang lebih mengangkat situasi perempuan kala itu yang tidak berdaya menghadapi permintaan sang Ayah sehingga ia menerima perjodohon dengan laki-laki bernama Datuk Maringgi. Cerita pernikahan Situ Nurbaya dengan Datuk tidaklah berkesan harmonis atau indah sehingga diidam-idamkan oleh orang-orang yang membacanya, sehingga kala itu aku sering mendengar kata perjodohan kerapkali dihubung-hubungkan dengan kisah Siti Nurbaya. Entah karena masih terlalu kecil untuk berhadapan dengan kata itu atau tidak yang pasti kisah Siti Nurbaya dan kata perjodohan yang lekat dengan ceritanya tidak mampu membuat ku berpikir, bertanya-tanya atau pun takut akan perjodohan.

Itu dulu. Sekarang sudah jelang 21 tahun tapi hati ini tidak bergeming mendengarnya, yang terjadi justru sebaliknya. Teringat saat ku mulai ingin memperdalam agamaku saat usia 15 tahun, ku ketahui bahwa dalam Islam tidak ada pacaran seperti yang kita temui dengan mudah disekitar kita. Aku pun secara pribadi risih dengan predikat pacaran. Aku malu kalau one day aku berkata ‘mau pacaran’ atau ‘ini pacar gue’ duhhh risih rasanya. Bagiku predikat pacaran bukanlah hal yang bisa dibanggakan ataupun diistimewakan, karena dengan predikat itu tidak mengubah hidup ku sehingga ku mempunyai hak dan kewajiban diantara ikatan batin kita. Yahh itu pandangan ku tentang pacaran walau akhrinya aku pun pernah kepleset untuk nyobain :D

Menurut pandangan ku dijodohkan masih lebih terhormat daripada harus pacaran terlebih dahulu. Bagaimana tidak?????? aku membayangkannya pasti akan banyak hal yang istimewa karena ku belum tau kesehariannya sebelumnya. Aku berpikir biarlah baik maupun buruknya ku ketahui saat ia halal untuk ku.

—–0——

Hari ku lalui seperti biasanya, tidak ada yang istimewa di hari itu. Tiba-tiba handphone-ku bergetar dan tertulis ‘satu pesan diterima’. Setelah ku buka ternyata sepupu ku sms dan bertanya “Ika lg dmn” . Ku jawab bahwa ku sedang ada di kosan, ada apa?. Satu pesan kembali terampang di layar handphone-ku masih dari orang yang sama dan isinya “lg pacaran ga, mau dijodohin ga”. Ku tersenyum sambil bertanya-tanya ada apa ini. Kejadian ini sangat langka. Kami sekeluarga besar tidak ada yang membicarakan perjodohan. Keluarga kamipun mempersilahkan kami untuk menentukan teman hidup kami masing-masing selama masih terdapat restu orang tua di dalamnya. Karenanya aku merasa aneh, namun ternyata sepupuku serius menanyakannya padaku.

Ohh god,,, mimpi apa tadi malam :)

Yang terjadi kala itu bukanlah aku meresa excited untuk dijodohkan namun perasaan bahagia ternyata ada dari keluargaku yang mengerti jalan yang lebih ku sukai.

Aku pernah berkata pada Papaku bahwa ia sudah bisa memikirkan siapa yang akan menjadi pendamping hidupku kelak. Ku katakan bahwa ia boleh mengenalkan calon supaya kita bisa berta’aruf. Kalimat itu dengan berani, mantap dan tenang ku lontarkan di usia ku yang meranajak 21 tahun.

Banyak hal yang membuatku merasa tidak betah lagi sendiri. Terlebih sekarang aku tinggal sendiri di kosan. Kegiatan ku yang cukup padat membuat ku sering pulang malam. Aku sering merasa takut saat pulang malam, walau itu di Jakarta yang notabene-nya kota yang tak pernah tidur. Selain itu, pribadi yang cenderung introvert membuat ku berpikir mencari teman untuk berbagi dan berdiskusi. ketidaknyamanan ku kala bercerita dengan orang lain membuat ku lebih memilih diam. Masalah datang silih berganti dan tidak jarang membuat ku terasa hidup sebatang kara di dunia ini. Dan, keinginan untuk memperdalam agamaku lebih dan lebih juga menjadi alasan-alasan panjangku mengapa di usia ini ku sudah memikirkan tentang menikah. Ku berpikir bahwa dengan menikah adalah solusi yang terbaik dari setiap yang ku hadapi sekarang ini. Dan keistimewaan perjodohan membuat ku memilih lebih baik dijodohkan.

Rasa Ini

Benar atau salahkah dari perasaan ku ini????????

Pertanyaan itu kerap datang dan pergi di otakku. Bagaimana tidak, setiap hari semakin memuncak perasaan ini, bertambah hari semakin bertambah pundi-pundi cintaku untuknya. Setiap hari, menit, detik, tiap nafas dan detak jantungku selalu ada dia dalam benakku. Dalam marahpun ku masih dapat melihat sisi baik dalam dirinya. Terlihat berlebihan namun itu yang ku rasakan.


Pertemuan pertama itu,,, saat usia 17 tahun tinggal menghitung hari. Dia memang yang pertama untuk ku. Laki-laki pertama yang ku cinta dengan segenap perasaan yang ku punya. Nyaris ribuan hari terlewati hingga sekarang. Banyak kisah diantara kita, konflik, derai air mata, kasih sayang, semua itu mewarnai perjalanan panjang gadis belia. Dirinya menjadi berarti tatkala ia sangat multifungsi dalam hidupku. Ia mampu memerankan semua peran yang aku butuhkan tepat pada waktunya.

Dia bukan orang yang pandai bertutur untuk mengungkapkan perasaan, sikap dan tingkah lakunya menjelaskan lebih tentang perasaannya padaku. Bayangkan jika kini aku bahkan merasakan ketenangan tiap kali mendengar ucapannya. Sebegitu ekstrim kah perasaan ini?? Orang bilang cinta monyet. Orang bilang “Ya iyalah wong cinta pertama”. Bagi ku apapun itu namanya yang pasti mampu buat ku terlena :)

Melewati hari hingga kini bukan berarti tidak ada rintangan yang berarti. Hingga kini kerikil dan batu besar itu masih ada, namun ia mampu untuk menenangkan semuanya dan mengajakku untuk berpikir realistis mengahadapi masalah. Belum pernah ku memperjuangkan sesuatu seberani ini. Bukan karena cinta buta yang ku miliki seperti kata orang, melainkan keyakinan ku pada apa yang jelas terlihat oleh ku namun tidak bagi orang yang sudah terlanjur membuat benteng yang gagah terhadapnya. Orang bilang ‘INI salah dan harus diakhiri!!!! siapa yang tidak teriris dan menangis mendengarnya. Tidak bisa dibohongi diri ini takut kehilangannya. Kata salah yang terucap adalah persepsi dari individu yang tidak mau melihat sesuatu dari sudut pandang kita. Ketahuilah bahwa kita akan terus perjuangkan selama kita meyakini ‘ITU’ benar!!!!!!

Apakah ku anak yang kurang ajar?????

Entahlah, di mataku dia nyaris sempurna. Laki-laki yang baik memiliki dua perisai dalam dirinya yaitu agama dan akhlaknya. Dia memiliki itu semua, taat dan berbakti pada orang tua terutama ibunya, cerdas, pekerja keras, tanggung jawab. Insya Allah dia mampu membimbing ku dalam agama dan mengangkat derajatku. Sesuai dengan apa yang ku harapkan.

Ku tidak menutup diri dari yang lain. Kesempatan itu ada selama ku belum dikhitbah oleh siapapun. Ku coba untuk seobjektif mungkin karena ku ingin yang ‘dekat’ dengan ku kini adalah teman masa depan ku. Ku masih bisa mengoreksi baik dan buruk dari dirinya. Siapapun yang berani mencuri hatiku………. kebanyakan darinya mundur perlahan, adapula yang tidak sesuai dengan kriteria. Karenanya ia seoalah irreplaceable untuk ku.

Dalam doa, ku ingin dia benar-benar yang terbaik untuk ku dan Allah menjadikan pertemuan itu adalah rahmat bagi kita untuk masa depan kita. Terlalu jauh kah aku memandang?????????? sudah seharusnya. Nikah muda adalah catatan ku sedari dulu, image pacaran sebenarnya bukan aku banget!!!!! dan kini ku semakin merasa bahwa sendiri untuk ku tidaklah baik.

Arti dari kejujuran dan ketulusan

Teman-teman ku bilang aku orangnya cuek, perfeksionis, dan lantang kalau berbicara. Kata mereka aku cuek dengan tanggapan orang terhadap diriku. misalnya; aku tidak ambil pusing orang mau berkata aku ini tomboy, anak baik, atau sebaliknya. Trus ku katakan bahwa aku tidak membentuk diri aku untuk terlihat baik hanya untuk predikat di mata banyak orang. At least till now, aku tidak butuh pengakuan dari teman-teman kalau aku anak baik-baik. Bagi ku jika ku melangkah dan tidak ada masalah dalam agamaku ya berarti aku aman. Ga ada yang terbaik selain agama berkata itu baik dan benar. Itu yang aku yakini.

Aku orang yang spontanitas. Aku selalu berusaha untuk jujur pada lawan bicaraku walau kadang ku tau mungkin dia akan mendiamkan ku karena kalimat-kalimat ku. tapi aku lebih memilih jujur dari pada berbohong untuk cari aman. Aku merasa ada beban yg berat dan merasa bersalah saat aku berbohong dan aku tersiksa oleh perasaan ku sendiri, karena itu aku lebih plong kalau jujur.

Aku juga orang yang tidak segan mengekspresikan perasaanku pada orang-orang di sekeliling ku. Aku sering katakan kalau aku kangen, aku sayang dan aku cinta – pada teman-teman di kampus yang dulu kami sering bertemu namun karena sudah beda kelas kami jadi jarang bercengkrama dan bersenda gurau. Aku bilang pada dia kalau ada sesuatu hal yang aku tidak nyaman. Aku memang terbiasa untuk mengatakan atau mengekspresikan perasaan suka dan tidak suka sejak kecil. Namun, dari semua sikap ku yang lantang, lugas dan berani tidak sedikit pun ada niat untuk menyakiti atau melukai hati orang. Sebenarnya aku orang yg mempunyai rasa empati yang tinggi, cuma dibungkus oleh sikap yang kata teman-teman “macho” untuk seorang perempuan dan dingin.

Hari demi hari ku lewati dan ku semakin faham terhadap diri ku sendiri. Aku adalah sulung dari empat bersaudara. jarak dari umurku ke adik-adik ku cukup jauh jadi, cukup lama aku sendiri tanpa seorang adik yang sudah pasti aku menjadi satu-satunya anak yang disayang dan selalu dapat perhatian dari orang tua ku. Sifat agak perfeksionis juga terbentuk sejak aku mulai puber. Aku ingin semua tertata sebagaimana mestinya dan aku punya aturan untuk hidup ku sendiri. Sejak kecil aku sudah terbiasa membuat target dalam hidup baik dalam akademik maupun non akademik. Karena itu aku selalu punya rencana untuk hari esok, jika aku menemukan sesuatu yang menghalangi niatku. Sedikit pun aku tidak pernah berkata tidak bisa, tapi berupaya mencari solusi agar rencana ku tetap berjalan walau aku harus berjuang sendirian untuk mendapatkannya. Mungkin karena ini juga Papa ku bilang aku orang yang ambisius.

Aku juga kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidup ku yaitu mama di masa remaja ku. Di usia 18 tahun aku harus mengayomi ketiga adik ku yang kala itu masih duduk di bangku 2 SMP, 4 SD dan yg terakhir berusia 3 tahun. Mama ku meninggal dengan tiba-tiba, sudah pasti aku sangat terpukul dan sedih. Tapi aku hanya sedikit meneteskan air mata karena saat air mata itu terjatuh ku melihat adik-adik ku. Saat itu aku berpikir jika aku menangis bagaimana dengan perasaan adik2 ku. mereka juga pasti sedih dan dia mau mengadu kemana kalau kakaknya pun rapuh. Aku tidak rela kalau adik ku harus memendam kesedihannya seorang diri. Yang ada di otak ku saat itu adalah mengikhlaskan dan menghibur hati ketiga adik ku, memberikan pengertian pada mereka bahwa ini adalah takdir tuhan yang terbaik untuk kita semua. Yakinilah kalau kita mampu melewatinya karena Allah tidak akan menguji diluar batas kemampuan kita, dan Mama berada ditempat terindah bersama Allah. Dalam hitungan menit ku harus cepat merubah suasana hati ku demi ketentraman hati adik-adik ku.

Sejak saat itu aku merasa kalau aku lebih mandiri, lebih tangguh, lebih dewasa, semakin sulit untuk mengeluarkan air mata walau kadang ku sangat ingin menumpahkannya agar hati ini lega, dan aku jadi lebih realistis dalam menghadapi sesuatu. Mungkin perjalanan hidup ku yang seperti itulah yang membentuk pribadi ku menjadi seperti ini. Sikap cuek ku karena ku menjalani hidup yang rumit sepeninggal mama, bersikap “macho” untuk seorang perempuan karena, ku berada di garda depan untuk adik-adik ku, Sikap ku yang lantang, lugas dan berani karena aku tidak bisa lagi cengeng setelah banyak tempaan yang aku alami.

Dibalik itu semua aku tetap perempuan yang memiliki perasaan dan selalu ingin membuat orang-orang disekeliling ku nyaman bersama ku. Aku mencintai mereka semua dengan ketulusan yang aku punya. Mungkin sulit bagi orang yang baru kenal atau tidak terlalu akrab dengan ku, untuk memahami siapa sebenarnya aku. Dan tidak sedikit yang menjadi marah atau tersakiti atas kejujuran dan ketulusan karena mungkin caranya yang salah. Aku memang bukan tipe romantis yang pandai untuk mencari kata kiasan dalam berucap. My apologize to all of  you. My apologize if  i’ve ever made you hurt or disappointed.

Yang niat belajar Ibu atau anaknya?

Selain ke kampus saya juga mengajar les matematika anak kelas 4 SD. Pertemuan pertama ku lihat anak ini cukup cerdas, tidak ada kesulitan yang  berarti saat mengajar dia. Hari berganti hari ku mulai menemukan dia seakan tidak siap untuk belajar. Terlihat tubuhnya kelelahan, matanya sayu dan tidak ceria. Saat ku tanya dia pulang sekolah jam berapa, ternyata ia baru tiba di rumah satu jam sebelum les matematika di mulai. Itu sekitar jam 3 sore. Ohh god… anak kelas 4 SD tiap hari pulang sekolah seperti ini….. walah walah walah dulu aku SD paling siang pulang jam 1 atau setengah 2, tapi kini durasi belajar di sekolah SD makin panjang. Trus kapan waktu mainnya……….. bair bagaimana masanya mereka adalah bermain bukan belajar, walau belajar juga penting untuk masa depannya.

Supaya dia merasa relax aku ajak dia ngobrol hal-hal yang dia suka seperti pertandingan bola walau aku ga pernah nonton bola :D , pagelaran musik atau menanyakan tadi sekolah apa aja yang seru. Nah, kalo aku dah melihat dia mulai antusias menceritakan dan aku dapat melihat senyumnya pelajaran siap di mulai, tidak jarang ku sisip kan game untuk dia yang tentunya berkaitan dengan materi yang diajarkan. Terlihat dia mulai menikmati dan finally thanks god I’ve done in this session :)

Walau anak ini terlihat diam, tiba-tiba strategi ku yang biasanya berhasil kini gagal :(   dia mulai berontak dan marah. Setelah diselidiki ternyata anak ini penat dengan rutinitas sehari-harinya. Dia katakan “belajar mulu, tiap hari belajar, ntar malam juga belajar lagi sama mama, ga pernah libur!”. Saat ku katakan kan ada weekend kamu bisa liburan di hari itu, dengan kesal dia menjawab “sama aja, liburan juga aku di suruh belajar sama mama, ga pernah liburan lagi kayak dulu”. See…….

Hi parents…. it is good if you make a decision in different point of you, from your son side may be. because it’s influence the others part in his life. Jangan merasa benar dengan menyibukkan anak dengan macam-macam kegiatan yang merampas masa kecilnya. Memang terlihat apik karena orang tua membungkkusnya dengan kegiatan belajar yang menunjang akademisnya tapi ini tidak adil untuk dia. anak itu bahkan bilang dia pernah dibangunkan dari tidur malamnya pada jam 2 pagi. ia dipaksa belajar oleh ibunya dikarenakan ia tidak sempat belajar di malam hari karena sakit. sebegitu teganya seorang ibu hanya karena ambisinya ia membangungkan anaknya yang masih tertidur lelap.

Ketika saya tanyakan sebenarnya apa sih pelajaran yang kamu senangi? dia menjawab tidak ada. Nothing??? kata ku. Aku cuma suka main bola katanya, kalau main bola ga tau tuh aku ga pernah merasa capek. Dan saat aku tanya mata pelajaran apa yang paling dia tidak suka, dengan lantangnya dia menjawab “Math”. Wow yang terlintas dalam pikiranku saat itu adalah, di mata pelajaran yang dia tidak suka saja nilai dia termasuk aman dan tidak perlu mengulang. Anak ini benar cerdas!!!

Sejak saat itu kini kalau belajar ku ijinkan dia membawa serta bolanya dan alat perkusinya. Dia tetap belajar sambil mengguling-gulingkan bola atau sambil menabuh perkusinya. kadang kita pun main bola bersama. Dan untuk pertama kalinya ia menemukan tutor math yang memberikan waktu istirahat dalam setiap pertemuan. Setiap tindakan pasti ada konsekuensinya. Aturan belajar yang kita rubah pun atas kesepakatan bersama dan kita, lebih tepatnya aku membimbingnya untuk membuat aturan agar setiap sesi tidak sekedar main tapi juga belajar. Kita deal untuk masalah itu dan It works :) prok prok prok.

Dia sempat bertanya bagaimana jika ibunya tau kalau dia membawa bola saat les, aku bilang “tenang aja kan ada Aku” kataku dan dia tersenyum. wah senangnya bisa melihatnya menikmati pelajaran yang dia tidak sukai.

I am under-construction

 

I am Ovnica Nitasari from Indonesia, Jakarta.

Being a teacher is my passion. I wanna be a teacher because of I am a female who seeking a job which appropriate with me. Teacher also one of profession that can make me under-construction in my whole life. Teacher is the healthiest profession, because of I always meet new person, young person who has good spirit, energy and idea.

Teacher is not teach someone but sharing information and knowledge. As a teacher also we learn many things from our students and their behave. Teacher is a key for the next generation.

Being a teacher make me always under-construction and I am grateful for that :)

Thanks god!